Menuntut Upah Dalam Pelayanan

Lukas 17:7-10

“Siapa di antara kamu yang mempunyai seorang hamba yang membajak atau menggembalakan ternak baginya, akan berkata kepada hamba itu, setelah ia pulang dari ladang: Mari segera makan!
Bukankah sebaliknya ia akan berkata kepada hamba itu: Sediakanlah makananku. Ikatlah pinggangmu dan layanilah aku sampai selesai aku makan dan minum. Dan sesudah itu engkau boleh makan dan minum.
Adakah ia berterima kasih kepada hamba itu, karena hamba itu telah melakukan apa yang ditugaskan kepadanya?
Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan.”

Mungkin kita pernah “hitung-hitungan” saat melayani Tuhan. “Apa untungnya buat aku???”, “Halah, paling juga kalau dapat banyak uang aku tidak kebagian….”… Dan seterusnya. Kalau pelayanan itu membutuhkan uang, bisa dengan murni membantu pelayanan.. Tapi ketika pelayanan itu ada cukup banyak uang, mulai timbul iri hati dan kedengkian : “Biyuh, dapat uang banyak kok ga dibagikan ke pelayan-pelayan sih??? jangan MENUMPUK BERKAT LHO, hati-hati!!! Kami para hamba Tuhan memang hidup dari pelayanan”… Atau bahkan mungkin merasa “dimanfaatkan”.

Dari apa yang dipaparkan Tuhan dalam Lukas 22:24-30, kita dapat menemukan pengertian pelayanan, khususnya dalam ayat 26-27. Dalam ayat tersebut Tuhan Yesus menunjuk seorang penyaji makanan sebagai gambaran seorang pelayan Tuhan. Seorang penyaji makanan adalah seorang yang berlelah untuk kenyamanan orang lain. Dalam penjelasannya tersebut Tuhan Yesus membandingkan antara konsep pelayanan Kristiani dengan pemerintahan di dunia. Pada umumnya pemerintah-pemerintah di dunia dengan dalih dan alasan melindungi, melayani dan memperhatikan kepentingan masyarakat, maka mereka memerintah dan melakukan segala kegiatan. Tetapi sebenarnya mereka mau dihormati, bahkan sangat mungkin “gila hormat”, tidak jarang apa yang mereka lakukan semata-mata untuk memperoleh keuntungan pribadi. Karenanya tidak heran kalau ada pandangan bahwa politik itu jahat.

Gereja yang tidak mengerti makna pelayanan yang benar, juga terjerembab jatuh ke dalam kesalahan tersebut. Orang percaya harus sungguh-sungguh memperhatikan, mau mengerti dan menerima bahwa Tuhan Yesus melepas jubah kebesaran-Nya dan mencuci kaki murid-murid-Nya (Yoh. 13). Inilah kebesaran sebuah pelayanan yang mulia. Dalam suratnya Paulus berkata “dirinya adalah hamba” (1Kor. 9:19; 2Tim. 2:3-4). Ini berarti bahwa pelayanan adalah segala sesuatu yang kita lakukan yang membuat orang lain diberkati (yaitu mengenal Allah yang benar dan didewasakan). Inilah yang sering dimaksud dengan memperkaya orang lain. Untuk ini seseorang harus berhenti dari melihat kepentingan diri sendiri, beralih melihat kepentingan orang lain. Mematikan egoisme, naluriah yang hanya melihat kebutuhan diri sendiri. Inilah kehidupan yang disalibkan. Telah mati bagi dirinya sendiri dan hidup bagi Allah.

Hal berikutnya, pelayanan berarti penyerahan terhadap tugas tanpa menuntut imbalan. Seorang hamba yang benar tidak menuntut upah (1Kor. 9:18). Seorang yang menyadari hal ini tidak akan merasa bahwa jerih payahnya dalam pelayanan harus mendapat imbalan. Salah mengerti makna pelayanan ini membuat seseorang merasa memiliki jasa yang layak diimbali. Mereka belum melayani Tuhan, tetapi melayani diri sendiri. Melayani cita-cita, ego dan nafsunya. Tuhan menjadi miskin supaya umat kaya. Paulus juga memiliki kesaksian hidup seperti ini (2 Kor. 6:3-10). Pengertian pelayanan tersebut harus kita miliki mulai sekarang, dikembangkan sehingga kita dapat menjadi seorang hamba. Pelayan Tuhan, bukan pelayan diri sendiri.

Dalam 1 Korintus 9:18, Paulus menulis suatu kesaksian hidup: Kalau demikian apakah upahku? Upahku ialah ini: bahwa aku boleh memberitakan Injil tanpa upah, dan bahwa aku tidak mempergunakan hakku sebagai pemberita Injil. Dalam pernyataannya ini ada suatu hukum pelayanan yang sangat luar biasa yang membuat pelayanan kepada Tuhan bermutu sangat tinggi. Paulus hendak mengajarkan kepada semua jemaat suatu hukum pelayanan yang telah dikenakan dalam hidupnya tersebut: Pelayanan bukan usaha untuk mencari atau mendapatkan upah. Upah tidak boleh menjadi dorongan pelayanan.

Tentu upah yang dimaksud Paulus di sini adalah haknya sebagai pemberita Injil. Haknya sebagai pemberita Injil adalah kehidupan nafkah yang dapat diperoleh dari jemaat, seperti yang dikemukakan dalam tulisannya: “Janganlah engkau memberangus mulut lembu yang sedang mengirik” dan lagi “seorang pekerja patut mendapat upahnya.” (1Tim. 5:18). Memang seorang pekerja Injil patut hidup dari pelayanannya, tetapi bukan berarti hal itu menjadi suatu hukum yang mutlak harus dipenuhi, di mana pelayan Tuhan berhak menuntut upah. Paulus sendiri berusaha untuk tidak menjadi beban dan batu sandungan bagi jemaat. Ia berusaha dengan tangannya sendiri mencari nafkah guna kehidupan sehari-hari dan biaya pelayanannya bahkan ongkos pelayanan pengerja yang lain (Kis. 18:2-3; 1Kor. 4:12). Bisa dibayangkan betapa sulit kehidupan pelayan Tuhan ini, tetapi ia tidak pernah mengeluh dan menuntut kehidupan yang layak dari jemaat yang dilayani. Dalam pernyataan-Nya ia berkata: Perak atau emas atau pakaian tidak pernah aku ingini dari siapa pun juga (Kis. 20:33).

Lalu apa korelasinya jika kita hanya seorang jemaat gereja atau seorang pelayan tapi buka sepenuh waktu ??

Sesungguhnya ketika gereja atau sebuah ladang pelayanan memberikan kesempatan untuk kita melayani, maka kita yang harusnya berterima kasih kepada mereka, bukan malah menuntut upah atau penghargaan dari mereka. Karena setiap kesempatan untuk melayani Tuhan adalah ANUGRAH! Oleh karena itu, gereja atau ladang pelayanan yang mengerti konsep akan hal ini lebih memilih untuk tidak memberikan upah secara materi kepada orang-orang yang telah membantu atau terlibat dalam pelayanan, bahkan juga tidak perlu merasa berhutang budi.

Sebagian besar renungan di atas diambil dari : Renungan Pdt. Erastus Sabdono

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.