Cara Membuat Istri Tunduk Pada Suami

Well … well.. well….

Anda sedang mencari artikel tentang cara membuat istri jadi penurut ? Doa atau amalan atau mantra, atau bahkan pelet agar supaya istri jadi tunduk dan takut pada suami ? Atau hukum terhadap istri yang tidak taat pada suami ??

Selama ini ketika Anda berbicara, istri selalu membantah dan tidak mau menurut ? bahkan Anda yang jadinya sering diatur/dikontrol olehnya ? Sifat seseorang yang keras kepala memang seringkali membuat sesak dada. Sekalipun sudah dipenuhi segala kebutuhan dan keinginannya, hal itu hanya membuatnya bersikap “manis” sementara waktu saja, tapi cepat lambat akan kembali lagi ke sifat aslinya. Duh, bikin cepat tua jadinya… Padahal memang bukan cuma kebutuhan akan materi saja yang membuat wanita bahagia, tapi juga ada kebutuhan lainnya yang harus dipenuhi.

Artikel seperti ini kalau dicari di google memang sukar sekali menemukan yang sumbernya dari iman kristiani. Baiklah kalau begitu, mari kita bahas di situs berbuah.com ini saja.

Dalam Efesus 5 ayat 22 dikatakan, “Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan,” Ini adalah salah satu anjuran yang disampaikan kepada setiap pasangan menikah. Tapi bagaimanapun, banyak kaum wanita yang masih mempertimbangkannya dan menilai bahwa perintah itu kurang sesuai dan tidak relevan dengan kehidupan modern seperti saat ini. Yang lainnya berpendapat bahwa perintah ini hanya mengungkung peran seorang wanita dalam rumah tangga. ‘Tunduk pada suami’ diinterpretasikan sebagai bentuk kepatuhan untuk mendengar tanpa komentar dan tidak memiliki andil dalam mengutarakan pendapat di tengah urusan rumah tangga. Pendapat lain juga menyampaikan bahwa ‘tunduk pada suami’ berarti memposisikan istri hanya pada perannya mengurus urusan rumah tangga seperti memasak, mengurus anak dan merawat dirinya.

Perspektif inilah yang membuat banyak orang mulai mempertanyakan kembali makna sebenarnya dari Efesus 5: 22 ini.

Sebelum masuk pada pembahasan, mari terlebih dahulu menyimak ayat Efesus 5: 21, “…dan rendahkanlah dirimu seorang kepada yang lain di dalam takut akan Kristus.” Ayat ini jelas sekali bertujuan untuk mengajak semua orang, baik laki-laki dan perempuan, untuk merendahkan diri satu sama lain. Rasul Paulus menulis surat ini kepada semua orang percaya di gereja di Efesus dan di berbagai tempat. Dia mengharapkan kita semua memiliki hati seorang hamba dan mengutamakan kebutuhan orang lain, di atas kebutuhan kita sendiri. Setelah memperkenalkan konsep saling melayani, Paulus kemudian mengalihkan perhatiannya kepada keluarga, yang merupakan dasar dari bangunan dalam sebuah komunitas masyarakat yang sehat. Dia memberikan tiga contoh bagaimana seharusnya sebuah keluarga itu bisa bekerja secara nyata baik melalui istri, suami dan anak-anak.

Paulus menyampaikan peran yang sangat jelas kepada istri, suami dan anak sebagaimana dituliskan dalam:

Efesus 5: 22-23

“Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh.”

Efesus 5: 25, 28

“Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya…..Demikian juga suami harus mengasihi isterinya sama seperti tubuhnya sendiri: Siapa yang mengasihi isterinya mengasihi dirinya sendiri.”

Efesus 6: 1

“Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian.”

Dari ketiga ayat ini, Paulus menerangkan dengan jelas kalau peran istri, suami dan anak-anak itu berbeda. Karena itu, dia menjelaskan cara masing-masing menunjukkan penghormatan antara satu sama lain. Anak memerlukan instruksi. Istri perlu penghargaan, sementara suami perlu memimpin.

Penyerahan itu bicara tentang menempatkan kebutuhan anggota keluarga yang lain di atas kebutuhan pribadi. Keegoisan hanyalah sesuatu yang disalahposisikan. Sementara rasa lelah merenggut hati kita dari penundukan diri. Akibatnya, kita tidak lagi punya apa-apa untuk bisa diberikan kepada orang-orang yang kita cintai. Sebagaimana orangtua yang terlalu sibuk dengan urusan pekerjaannya tak lagi punya waktu untuk memberi arahan dan pendisiplinan kepada anak-anak mereka. Padahal, anak-anak mengandalkan orang tuanya untuk mengajarkan mereka perihal benar dan salah.

Sama halnya seperti suami yang kadang lupa mengungkapkan cinta kepada pasangannya dengan cara-cara yang sederhana. Itu sebabnya dalam pernikahan penting sekali bagi suami untuk berkorban demi istrinya. Sementara istri yang kelelahan kadang akan membuat keputusan tanpa meminta masukan dari suaminya. Istri demikian mencoba mengelola rumah tangga dan bahkan tidak mempedulikan keberadaan suaminya. Saat istri melakukan hal itu, maka suami akan merasa bahwa dirinya tidak berguna dan keluarga justru akan kehilangan kepemimpinan seorang suami dan ayah. Saat itulah seorang suami merasa kehilangan rasa hormat. Dalam hal inilah Efesus 5: 22 mengingatkan agar para istri tunduk kepada suami.

Mungkin banyak yang tidak suka atau tidak setuju dengan ayat ini tapi ini adalah perintah Alkitab yang menggambarkan sebuah pernikahan yang sukses. Dia merasa dihormati, dicintai dan keduanya mencari yang terbaik satu sama lain dan saling memandang satu sama lain. Dan parenting yang sukses diawali oleh pernikahan yang sukses!

Ingatlah bahwa dalam pernikahan bukan istri saja yang berperan untuk tunduk kepada pasangannya. Tapi keduanya harusnya terlebih dahulu mau menundukkan diri mereka kepada Tuhan. Jika hal ini sudah dilakukan, yakinlah baik suami dan istri pasti akan lebih mudah untuk mempraktikkannya kepada pasangannya. Ingat bahwa suami istri adalah dua pribadi yang sudah menjadi satu daging (baca Kejadian 2: 24). Dalam artian bahwa suami adalah cerminan dari sang istri, demikian sebaliknya. Sehingga suami dan istri harusnya satu hati dalam membangun dan menjaga rumah tangga mereka.

Pada mulanya, karena tidak ada dosa, manusia tidak perlu tunduk kepada siapapun selain kepada kuasa Allah. Ketika Adam dan Hawa tidak menaati Allah, dosa masuk ke dalam dunia dan karena itu dibutuhkan otoritas. Karena itu, Allah menetapkan otoritas yang dibutuhkan untuk menegakkan hukum negara dan juga untuk melindungi manusia.

Pertama-tama, kita perlu tunduk kepada Allah, di mana ini merupakan satu-satunya cara untuk menaati Dia secara penuh (Yakobus 1:21 dan Yakobus 4:7). Dalam 1 Korintus 11:2-3 kita diajarkan bahwa suami harus tunduk kepada Kristus sebagaimana Kristus tunduk kepada Allah.

Ayat ini selanjutnya menyatakan bahwa isteri patut mengikuti teladan ini dan tunduk kepada suaminya. Ayat-ayat lain mengenai Kristus tunduk kepada Allah dapat ditemukan dalam Matius 26:39 dan Yohanes 5:30.

Tunduk merupakan respon alami terhadap kepemimpinan dalam kasih. Ketika seorang suami mengasihi isterinya, sebagaimana Kristus mengasihi gereja (Efesus 5:25-33), maka tunduk merupakan respon alami dari isteri kepada suaminya.

Kata Yunani yang diterjemahkan tunduk (hupotasso) merupakan kata kerja yang berbentuk terus menerus. Ini berarti bahwa tunduk kepada Allah, pemimpin kita, dan suami kita, bukanlah tindakan yang dilakukan satu kali.

Tunduk merupakan sikap yang terus menerus dalam pikiran kita dan menjadi pola tingkah laku seseorang. Tunduk yang dibicarakan dalam Efesus 5 bukanlah berbicara mengenai sikap tunduk sepihak dari orang-percaya kepada orang egois dan yang mau mendominasi saja.

Sikap tunduk dalam Alkitab didesain sebagai sikap di antara dua orang-percaya yang dipenuhi Roh dan saling tunduk satu dengan yang lain dan kepada Allah. Tunduk merupakan jalan dua arah. Tunduk merupakan posisi kehormatan dan kesempurnaan.

Ketika isteri dikasihi sebagaimana Kristus mengasihi jemaatnya, bisa tunduk tidaklah sulit. Efesus 5:24 mengatakan, “Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu” (Efesus 5:24).

Ayat ini menyatakan bahwa isteri harus tunduk kepada suaminya dalam segala sesuatu yang benar dan sesuai dengan hukum. Karena itu, isteri juga tidak boleh melanggar hukum atau mengabaikan hubungannya dengan Allah.

Perempuan diciptakan dari tulang rusuk yang diambil dari sisi Adam, bukan dibuat dari kepalanya untuk memerintah dia; bukan dari kakinya untuk diinjak-injak olehnya. Namun, ia diambil dari sisinya untuk menjadi sederajat dengan dia, di bagian bawah dari tangannya untuk dilindungi, dekat ke hatinya untuk dikasihi.

Kata “tunduk” dalam Efesus 5:21 merupakan kata yang sama yang digunakan dalam 5:22. Orang-percaya harus tunduk satu dengan yang lainnya karena menghormati Kristus.

Ayat 19-21 berbicara mengenai hasil-hasil kepenuhan Roh Kudus (5:18). Orang-percaya yang penuh dengan Roh Kudus selalu menyembah (5:19), bersyukur (5:20), dan tunduk (5:21). Paulus kemudian melanjutkan pemikirannya tentang hidup yang dipenuhi dengan Roh Kudus dalam konteks hubungan suami isteri terutama di ayat 22-23.

“Isteri yang cakap siapakah akan mendapatkannya? Ia lebih berharga dari pada permata.” Amsal 31:10

Tidak hanya suami yang harus bersikap baik di dalam Kristus, tetapi isteri juga memegang peranan penting dalam keharmonisan rumah tangga.

Firman Tuhan mengatakan bahwa isteri yang cakap lebih berharga dibandingkan dengan permata. Permata merupakan logam yang sangat berharga, jauh lebih berharga dibandingkan dengan emas. Banyak sekali orang di dunia ini yang bangga jika mengenakan permata sebagai perhiasannya. Seorang isteri yang cakap di dalam Tuhan jauh melebihi permata yang ada di dunia ini.

Tentunya semua isteri ingin menjadi isteri yang seperti itu. Mari kita lihat beberapa hal di dalam Firman Tuhan yang dapat membantu kita sebagai isteri untuk dapat menjadi lebih baik lagi di hadapan Tuhan :

1. Tunduk Kepada Suami

“Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan,
Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu.” Efesus 5:22,24

Alkitab tidak mengatakan: hai suami tunduklah kepada isterimu, tetapi justru sebaliknya. Merupakan suatu kewajiban bahwa isteri harus tunduk kepada suami.

“Hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan.” Kolose 3:18

Jaman boleh berubah dengan meningkatnya status wanita menjadi setara dengan laki-laki di manapun dia berada. Sehingga wanita boleh menduduki posisi-posisi strategis baik di bidang bisnis, pekerjaan, pemerintahan dan lainnya.

Tetapi dalam posisinya di rumah tangga, harus tetap disadari bahwa suami memegang otoritas pemimpin dan kepala keluarga. Bagaimanapun posisi, status dan keadaan suami, isteri harus belajar tunduk kepada suaminya.

2. Hidup Murni Di Hadapan Tuhan

“Demikian juga kamu, hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, supaya jika ada di antara mereka yang tidak taat kepada Firman, mereka juga tanpa perkataan dimenangkan oleh kelakuan isterinya, jika mereka melihat, bagaimana murni dan salehnya hidup isteri mereka itu.” 1 Petrus 3:1-2.

Seorang isteri harus belajar untuk menjaga sikap dan tindakan mereka kepada suaminya. Ada sebagian suami yang memang belum dimenangkan di dalam Kristus. Bahkan mereka melakukan berbagai kejahatan di mata Tuhan.

Seorang isteri harus belajar bersabar dalam menghadapi hal ini. Dia harus tetap melakukan apa yang berkenan di hadapan Tuhan dan tetap mengasihi suaminya.

Sebagian besar suami yang bersikap tidak baik seperti ini tidak dapat diubahkan hanya dengan perkataan saja. Tetapi ketika suami melihat isterinya yang selalu bersikap sabar dan penuh kelembutan dalam menghadapi mereka, suatu saat sang suami akan luluh hatinya. Suami dapat dimenangkan hatinya melalui sikap dan tindakan isteri yang sabar dan taat kepada Tuhan.

3. Menjadi Penolong

“TUHAN Allah berfirman: “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.” Kejadian 2:18

Tuhan menempatkan wanita untuk menjadi penolong bagi laki-laki, bukan sebaliknya. Adalah suatu kebahagiaan bersama bagi suami dan isteri, jika suami mendapatkan kesuksesan dan ketenaran dalam pekerjaannya jika isteri sangat memegang peranan penting dalam perjalanan menuju kesuksesan tersebut.

Setiap doa, dorongan, penyertaan, kesetiaan dan kesabaran yang senantiasa diberikan kepada suaminya akan menjadi suatu pondasi yang kuat bagi suami untuk dapat meraih kesuksesan.

“…dan isteri hendaklah menghormati suaminya.” Efesus 5:33b

Untuk itu, apapun kondisi suami saat ini, entah sedang dalam keterpurukan ataupun dalam kejatuhan, biarlah isteri tetap dapat setia untuk mendampingi suaminya. Isteri tidak boleh mencemooh, menjelekkan atau bahkan meninggalkan suami jika sedang dalam keadaan yang buruk.

Isteri harus ingat bahwa dalam keadaan susah maupun senang, dia harus senantiasa menjadi pendamping dan penolong bagi suaminya.
Biarlah isteri tetap dapat men-support suaminya jika sedang menjalani masalah dan keadaan yang tidak menyenangkan.

Dengan tetap bergandengan tangan, maka ada kekuatan yang akan menyertai rumah tangga kita untuk dapat menghadapi masalah yang ada. Sehingga pada akhirnya nanti suami dan isteri dapat meraih kemenangan secara bersama-sama di hadapan Tuhan. Haleluya!

“Isteri yang cakap adalah mahkota suaminya, tetapi yang membuat malu adalah seperti penyakit yang membusukkan tulang suaminya.” Amsal 12:4

“Kemolekan adalah bohong dan kecantikan adalah sia-sia, tetapi isteri yang takut akan TUHAN dipuji-puji.” Amsal 31:30

 

Kromosom Perempuan

Perempuan mempunyai kromosom XX yang jiwanya butuh mengeluarkan rata-rata 20 ribu kata per hari. Seorang istri yang jarang diajak ngobrol santai oleh suaminya, jarang diajak kencan oleh suaminya, jarang diajak makan berdua saja, maka bahasa tubuh dan nada bicaranya tidak akan mengenakkan.

Menyusui anak akan resah, tak sabar dengan kelakuan anak, bahkan cenderung menjadikan anak sebagai sasaran pelimpahan emosi yang tidak semestinya. Jadi mudah jengkel, baik dengan anak, suami, pembantu maupun orang tua.

Kadang endapan permasalahan dengan sang suami dimanifestasikan dalam bentuk amarah yang tidak jelas kepada anak-anak dan orang lain.

Ada kalanya ada seorang istri yang tetap sabar kepada anak-anaknya meskipun Ayah tak memberi ruang bagi jiwanya. Akan tetapi, manifestasi ekstrimnya bisa dalam bentuk penyakit fisik yang sulit sembuh, seperti gatal-gatal, nyeri yang berpindah-pindah, atau bahkan KANKER dll.

Maka tugas wajib seorang suami adalah memberikan ruang, waktu dan suasana setiap hari bagi sang istri untuk bicara sebagai upaya untuk selalu menyehatkan jiwanya, mendengar keluh kesahnya.

Rangkullah istrimu untuk marah dan menangis agar sehat jiwanya, agar bisa selalu memberikan bunga cinta untuk anak-anaknya.

Ibu yang sehat jiwanya dapat menjalankan tugasnya ‘sebagai sekolah terbaik bagi putra-putrinya’.

Ia bisa tahan berjam-jam mendengar keluhan anak-anaknya. Ia mudah memaafkan anaknya. Ia menjadi sekolah yang baik untuk menanamkan nilai- nilai ilahi, dan hal ini harus didukung oleh Ayah yang memperhatikan hatinya, disamping kesehatan fisiknya. Ibu harus sehat luar dan dalam.

Ayah yang hebat berawal dari suami yang hebat, yang mengerti jiwa dan kebutuhan pasangan. Dan parenting yang sukses dimulai dari pernikahan yang sukses!

Singkatnya, bahagiakan pasangan kita, maka keluarga akan harmonis dan bahagia.

Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian. (Kolose 3:13)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.